BINTAN, PUANKEPRI.COM – Sebuah pemandangan humanis dan menyentuh hati mewarnai ruang rapat koordinasi di Kabupaten Bintan. Jeritan hati para nelayan tradisional Bintan Pesisir yang biasanya hanya bergaung di tepian laut, kini didengar langsung secara saksama oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kepulauan Riau, Misni, S.K.M., M.Si.
Mendengar langsung curahan hati para pencari nafkah di laut tersebut, Misni tidak tinggal diam di balik meja kerjanya. Pemimpin perempuan di jajaran birokrasi Kepri ini langsung mengambil tindakan nyata dengan turun ke laut menuju lokasi rencana kegiatan sedimentasi pasir di Desa Numbing, Kecamatan Bintan Pesisir, pada Selasa (19/5/2026).
Terjang Gelombang hingga Mabuk Laut Demi Masyarakat Pesisir
Kondisi laut lepas Bintan yang terkenal dengan ombaknya yang tak menentu menjadi tantangan tersendiri. Sebagai seorang pejabat tinggi yang sehari-harinya akrab dengan dokumen negara, Misni harus bertaruh fisik menembus ombak besar.
Akibat hantaman gelombang, Sekda Kepri sempat mengalami mabuk laut yang cukup menguras stamina. Namun, hal itu tidak menyurutkan tekadnya untuk tetap bertahan di atas kapal demi menepati janji kepada masyarakat pesisir.
“Lautan lepas adalah medan berat bagi pejabat daerah. Tapi Ibu Sekda ikhlas bertaruh fisik demi mendengar langsung denyut nadi kehidupan kami,” ungkap Mustafa Bisri Al’amin, tokoh pejuang Nelayan Tradisional Bintan Pesisir dengan nada haru.
Bagi Mustafa dan ratusan nelayan lainnya, laut dan ombak adalah ruang hidup utama mereka. “Itulah pelukan rumah kami setiap hari. Tempat kami mempertaruhkan nyawa demi sesuap nasi untuk anak istri,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Titik Terang untuk Keberlanjutan Ruang Hidup Nelayan
Kehadiran langsung Misni di tengah laut Bintan menumbuhkan harapan baru bagi para nelayan tradisional. Mereka merasa tidak lagi berjalan sendirian dalam memperjuangkan kelestarian lingkungan tempat mereka mencari ikan.
Mewakili Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) dan Aliansi Nelayan Bintan-Lingga, Mustafa menyampaikan apresiasi yang mendalam atas ketulusan hati Sekda Kepri.
“Kebaikan dan kerendahan hati Ibu yang bersedia merasakan lelahnya menjadi nelayan tradisional, tidak akan pernah kami lupakan. Semoga langkah Ibu hari ini menjadi berkah bagi kelestarian laut Bintan-Lingga, agar kami tak harus menghadapi kerusakan lingkungan yang mengancam hidup kami,” harap Mustafa.
Warga berharap, peninjauan langsung ini menjadi pembuka jalan keadilan, terutama dalam menjaga titik rompong (zona tangkapan ikan tradisional) serta masa depan anak cucu mereka.
Siap Sambut Kembali Kehadiran Sekda Kepri
Meski sempat kelelahan usai kunjungan kerja yang berat tersebut, teladan yang ditunjukkan oleh Misni memicu simpati mendalam dari warga. Para nelayan pun menyatakan komitmennya untuk menyambut kepulangan Sekda Kepri tiga hari ke depan dengan semangat gotong royong dan rasa kekeluargaan yang tulus.
“Selamat beristirahat dan memulihkan kesehatan, Ibu Sekda. Kami satu komando, siap bekerja sama demi masa depan laut kami,” pungkas Mustafa.
Aksi turun lapangan ini membuktikan peran penting kepemimpinan perempuan yang responsif, humanis, dan berani mengambil risiko demi mendengarkan langsung jeritan masyarakat kecil di garis pantai Kepulauan Riau. (pk/red)












