Wabup Raja Bayu Desak Kajian Hulu-Hilir Segera Dieksekusi

ANAMBAS, PuanKepri.com – Di saat banyak daerah masih sibuk menyusun dokumen rencana, Kepulauan Anambas memilih menantang dirinya sendiri untuk naik kelas: dari perencana menjadi pelaksana. Wakil Bupati Kepulauan Anambas, Raja Bayu Febri Gunadian, S.E menegaskan hal itu saat memimpin Rapat Audiensi Penyampaian Hasil Kajian Pengelolaan Ekosistem dari Hulu ke Hilir di Ruang Rapat Lantai II Kantor Bupati, Pasir Peti, Kamis (10/09/2026).
Pesan utama Wabup tajam dan reflektif: Anambas tidak kekurangan ide, Anambas kekurangan eksekusi.

Dalam arahannya, Raja Bayu menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Anambas Foundation yang dinilai telah memberi manfaat konkret bagi pemerintah dan masyarakat. Kolaborasi yang telah terjalin selama ini, menurutnya, harus naik ke level berikutnya – sinkronisasi program yayasan dengan agenda pembangunan daerah, terutama yang berdampak langsung pada ekonomi masyarakat pesisir.

“Yayasan Anambas Foundation hari ini memang sangat bermanfaat untuk pemerintah, terutama masyarakatnya. Dan mungkin kami juga ingin kita berkolaborasi nanti bagaimana kegiatan-kegiatan tersebut bisa kita sinkronkan dengan kegiatan pemerintah, terutama tentang bagaimana kita bisa meningkatkan ekonomi masyarakat,” ujar Raja Bayu.

Ia mengakui, Pemerintah Daerah sejatinya telah memiliki berbagai rencana dan gagasan besar terkait pengelolaan ekosistem. Namun rencana tersebut kerap berhenti di atas kertas. Inilah paradoks pembangunan di wilayah kepulauan 3T: kaya kajian, miskin implementasi.

“Harapan saya, komitmen kita saat ini, keterkaitan dengan yang saya sampaikan tadi. Terutama lokasi yang punya rencana sudah biasa, jadi kita meminta rekan juga sudah banyak rekan-rekan, tetapi sampai hari ini untuk mengeksekusi, itu yang belum bisa kita lakukan,” tegasnya.

Kehadiran para ahli dari Anambas Foundation yang membawa kajian komprehensif dari hulu ke hilir – dari hutan, sungai, hingga terumbu karang – seharusnya menjadi momentum pembeda. Wabup menyayangkan jika momentum intelektual tersebut tidak diterjemahkan menjadi aksi lapangan, sekecil apapun.

“Nah, ini sangat disayangkan. Dengan Para Ahli sudah ke sini, tetapi kita tidak bisa eksekusi. Ini yang harus kita lakukan sekarang juga. Saya tertarik banget, mereka punya apa pun itu untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. Walaupun kecil, tapi dilaksanakan,” ungkapnya.

Untuk memutus rantai wacana tanpa aksi, Raja Bayu mendorong pembentukan kerangka strategis bersama. Kerangka ini akan menjadi jembatan antara hasil kajian ilmiah dan kebijakan pemerintah, agar dapat dieksekusi oleh semua tim lintas OPD.
“Nah, ini kita punya apa yang ingin kita lakukan. Bagaimana kita pemerintah daerah bersama anggota kompetensi membuatkan kerangka strategis agar ini bisa dieksekusi. Nah, ini yang mesti kita eksekusikan buat semua tim,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menawarkan formula kolaborasi segitiga yang menjadi kunci pembangunan berkelanjutan di Anambas: pemerintah sebagai pemegang kewenangan, yayasan sebagai pemilik pengalaman dan jaringan, dan masyarakat sebagai pelaku utama.

“Pemerintah daerah memiliki kewenangan dan kebijakan, Yayasan Anambas Foundation memiliki pengalaman, jaringan dan pastinya pendekatan kebudayaan masyarakat, sementara masyarakat merupakan pelaku pembangunan. Kalau ketiganya bisa kita satukan, Insyaallah dampaknya akan jauh lebih besar,” tuturnya.

Pada akhirnya, audiensi ini bukan sekadar soal ekosistem. Ini tentang visi Anambas sebagai laboratorium hidup, di mana ekonomi, kesejahteraan, dan kelestarian tidak saling meniadakan.

“Mari kita jadikan Anambas sebagai contoh bahwa perubahan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian lingkungan dapat berjalan secara bersama-sama,” pungkas Wabup Raja Bayu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *