Batam, Puankepri.com – Di balik aroma harum masakan yang mengepul di Dataran Engku Putri, Jumat pagi (4/7/2025), semangat puluhan kader PKK dari 12 kecamatan Kota Batam tak kalah membara. Mereka bukan sekadar berlomba memasak, tapi sedang menggelar perlawanan senyap terhadap pola makan yang monoton dan kurang bergizi di banyak dapur rumah tangga.
Lomba Cipta Menu B2SA — singkatan dari Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman — digelar sebagai salah satu program strategis pemberdayaan perempuan lewat dapur. Di ajang ini, kreativitas bertemu nilai gizi, tradisi bertemu inovasi, dan ibu-ibu PKK menjadi garda terdepan perubahan pola konsumsi pangan masyarakat.
Kecamatan Sagulung akhirnya keluar sebagai juara pertama. Menu yang mereka tampilkan memikat para juri bukan hanya karena tampilan, tapi karena komposisi bahan pangan yang kaya nutrisi, beragam, dan diolah dengan cara yang sehat. Lewat sajian khas penuh cita rasa, Sagulung membuktikan bahwa makanan sehat tidak harus mahal dan membosankan.
“Ini bukan soal menang atau kalah. Ini soal mengajak masyarakat untuk lebih sadar pentingnya asupan gizi yang seimbang,” ujar Ketua TP-PKK Kota Batam, Hj. Erlita Sari Amsakar, dalam sambutannya.
Menurutnya, ajang seperti ini punya makna lebih dalam: menjadi ruang edukasi sekaligus penguatan jejaring antar kader. Ia menyoroti fakta bahwa pola konsumsi masyarakat masih terlalu bergantung pada bahan pokok seperti beras dan terigu. “Kita ingin ibu-ibu bisa mulai mengolah pangan lokal seperti umbi-umbian, sayuran segar, dan protein nabati-hewani yang mudah dijangkau namun kaya manfaat,” tegas Erlita.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Batam, Mardanis, menyebut lomba B2SA sebagai bentuk intervensi langsung terhadap budaya makan keluarga Indonesia. “Kita ingin keluar dari ketergantungan pangan tunggal. Menu B2SA ini adalah simbol bahwa pangan kita berlimpah dan bisa diolah jadi hidangan lezat sekaligus sehat,” ujarnya.
Di stan-stan sederhana yang berjejer rapi, para kader PKK menunjukkan kebolehannya. Ada yang menyulap talas menjadi lasagna lokal, ada pula yang memadukan ikan tongkol, daun kelor, dan jagung menjadi kudapan yang menggugah selera. Semua menu diuji tidak hanya dari segi rasa, tapi juga nilai gizi, kreativitas penyajian, dan pemanfaatan bahan lokal.
Lomba ini bukan hanya soal siapa yang paling enak memasak, tapi siapa yang paling peduli terhadap apa yang disajikan untuk keluarganya. Lewat tangan-tangan para kader inilah, semangat B2SA diharapkan merembes ke dapur-dapur keluarga di Batam — tempat di mana kesehatan dimulai, satu piring makan setiap harinya.














